Apa yang perlu dihindari dalam berharap?


Meski untuk berharap itu tidak ada aturannnya. Namun berdasarkan pengalaman dan kebisaaan, ada beberapa hal yang akan lebih bagus dihindari, beberapa hal itu antara lain:

Pertama, harapan mulut (wish). Seperti apa harapan mulut itu? Kalau kita berharap adanya hari esok lebih bagus, namun itu hanya kita gunakan dalam ucapan atau tulisan, tanpa diiringi dengan tujuan, perencanaan, strategi, teknik dan pelaksanaannya (aksi). Ya itu namannya harapan mulut. Bisaanya harapan itu tidak mengubah apa-apa. Harapan seperti ini sama seperti fantasia tau keinginan-keinginan yang sifatnya masih umum (wish).

Para pakar pengembangan diri umumnya membedakan antara wish dengan goal tujuan yang jelas. Katanya, orang lemah bisaanya hanya punya wish; sedangkan orang kuat bisaanya memiliki goal. Goal adalah keinginan dengan sasaran yang jelas dan jelas-jelas kita usahakan. Sekedar punya wish dalam pengertian sepert ini, tentu semua orang bisa. Sayangnya praktek hidup tidak peduli dengan berbagai wish yang kita ucapkan.


Kedua, terlalu berharap (over-expectation). “jangan terlalu berharap nanti kecewa sendiri”, itu pesan yang sering kita dengar. Memang ini tidak pasti namun bisaanya begitu. Terlalu berharap berbeda dengan memiliki harapan yang kuat (optimis) Harapan yang kuat berujung pada usaha yang kuat, sementara terlalu berharap bisaanya hanya berhenti pada mengharap, untuk mengharap dan selalu berharap.

Ada pepatah yang berpesan begini, “jika kamu mengharapkan sesuatu, jangan terlalu mengharapkannya.” Bahkan Samuel Somarset mengamati bahwa mengharapkan sesuatu kerapkali malah mengundang datangnya sesuatu yang kita tidak harapkan. Inilah anehnya hidup itu.

Ketiga, berharap dengan setengah takut (ragu-ragu), bisaanya harapan seperti itu lahir dari ketidaktahuan kita secara akurat. Jika kita mengharapkan hari esok yang bagus, namun kita tidak tahu apa alasan berharap seperti itu, mau tidak mau harapan kita tidak steril. Harapan kita masih bercampur dengan ketakutan dan keragu-raguan, seperti kata choach Bear Bryant, yang membedakan orang-perorang itu bukan harapannya pada keberhasilan, tetapi persiapannya. Semua orang mengharapkan keberhasilan, tetapi hanya orang yang punya persiapan yang matang yang berpeluang untuk berhasil.

Keempat, menggantungkan harapan pada kenyataan. Kalau kita hari ini punya harapan cerah karena sehabis menerima bonus tahunan, kemudian bulan depan kita lesu karena tidak ada bonus, ini namanya menggantungkan harapan pada kenyataan. Artinya kita menset harapan itu sesuai dengan kenyataan sementara yang kita hadapi.

Pada ukuran yang wajar, bisalah kita sebut ini kelemahan manusiawi yang wajar. Dibilang tidak bagus memang tidak bagus tetapi ini dimiliki oleh setiap manusia. Nah, agar kewajaran ini tidak membuahkan kerugian atau kefatalan, maka kita diajarkan untuk menggantungkan harapan pada Tuhan (iman), bukan pada realitas. Artinya kita perlu belajar menemukan alasan yang kuat untuk bisa memiliki harapan optimisme, terlepas realitas sementara yang kita hadapi. Seperti pesan Einsten, orang optimis bisa melihat sinar di ujung kegelapan; bisa melihat tanda-tada peluang dibalik kesulitan.

Kelima, mempertentangkan harapan dan kenyataan. Apa yang membuat orang stress berkepanjangan? Apa yang membuat orang terkena konflik diri terlalu lama? Salah satunya adalah kurang bisa me-manage gap antara harapan dan kenyataan. Orang yang bisa manage, bisaannya menjadikan kenyataan sebagai dorongan untuk mewujudkan harapnnya, mereka bisa menggunakan ketidakpuasan sebagai dorongan untuk menciptakan perubahan. Banyakkan orang yang akhirnya mendapatkan berkah dari kenyataan buruk yang dihadapinya?

Sebaliknya orang yang belum bisa me-manage. Kerapkali menjadikan kenyataan ini sebagai killer harapannya, mereka menjadikan kenyataan sebagai penyubur apatisme dan pesimisme, meski sama sama menghadapi kenyataan yang sama, namun karena sikap mentalnya yang berbeda, ya akan berbeda hasilnya. Tidak sedikit orang yang selalu menuding kenyataan dan menjadikan kenyataan itu sebagai dalil pembenar untuk hopeless.

*) Dikutip dari “Mengapa Perlu Optimis, AN, Ubaedy, www.e-psykologi.com 2007

Meski untuk berharap itu tidak ada aturannnya. Namun berdasarkan pengalaman dan kebisaaan, ada beberapa hal yang akan lebih bagus dihindari, beberapa hal itu antara lain:

Pertama, harapan mulut (wish). Seperti apa harapan mulut itu? Kalau kita berharap adanya hari esok lebih bagus, namun itu hanya kita gunakan dalam ucapan atau tulisan, tanpa diiringi dengan tujuan, perencanaan, strategi, teknik dan pelaksanaannya (aksi). Ya itu namannya harapan mulut. Bisaanya harapan itu tidak mengubah apa-apa. Harapan seperti ini sama seperti fantasia tau keinginan-keinginan yang sifatnya masih umum (wish).

Para pakar pengembangan diri umumnya membedakan antara wish dengan goal tujuan yang jelas. Katanya, orang lemah bisaanya hanya punya wish; sedangkan orang kuat bisaanya memiliki goal. Goal adalah keinginan dengan sasaran yang jelas dan jelas-jelas kita usahakan. Sekedar punya wish dalam pengertian sepert ini, tentu semua orang bisa. Sayangnya praktek hidup tidak peduli dengan berbagai wish yang kita ucapkan.

Kedua, terlalu berharap (over-expectation). “jangan terlalu berharap nanti kecewa sendiri”, itu pesan yang sering kita dengar. Memang ini tidak pasti namun bisaanya begitu. Terlalu berharap berbeda dengan memiliki harapan yang kuat (optimis) Harapan yang kuat berujung pada usaha yang kuat, sementara terlalu berharap bisaanya hanya berhenti pada mengharap, untuk mengharap dan selalu berharap.

Ada pepatah yang berpesan begini, “jika kamu mengharapkan sesuatu, jangan terlalu mengharapkannya.” Bahkan Samuel Somarset mengamati bahwa mengharapkan sesuatu kerapkali malah mengundang datangnya sesuatu yang kita tidak harapkan. Inilah anehnya hidup itu.

Ketiga, berharap dengan setengah takut (ragu-ragu), bisaanya harapan seperti itu lahir dari ketidaktahuan kita secara akurat. Jika kita mengharapkan hari esok yang bagus, namun kita tidak tahu apa alasan berharap seperti itu, mau tidak mau harapan kita tidak steril. Harapan kita masih bercampur dengan ketakutan dan keragu-raguan, seperti kata choach Bear Bryant, yang membedakan orang-perorang itu bukan harapannya pada keberhasilan, tetapi persiapannya. Semua orang mengharapkan keberhasilan, tetapi hanya orang yang punya persiapan yang matang yang berpeluang untuk berhasil.

Keempat, menggantungkan harapan pada kenyataan. Kalau kita hari ini punya harapan cerah karena sehabis menerima bonus tahunan, kemudian bulan depan kita lesu karena tidak ada bonus, ini namanya menggantungkan harapan pada kenyataan. Artinya kita menset harapan itu sesuai dengan kenyataan sementara yang kita hadapi.

Pada ukuran yang wajar, bisalah kita sebut ini kelemahan manusiawi yang wajar. Dibilang tidak bagus memang tidak bagus tetapi ini dimiliki oleh setiap manusia. Nah, agar kewajaran ini tidak membuahkan kerugian atau kefatalan, maka kita diajarkan untuk menggantungkan harapan pada Tuhan (iman), bukan pada realitas. Artinya kita perlu belajar menemukan alasan yang kuat untuk bisa memiliki harapan optimisme, terlepas realitas sementara yang kita hadapi. Seperti pesan Einsten, orang optimis bisa melihat sinar di ujung kegelapan; bisa melihat tanda-tada peluang dibalik kesulitan.

Kelima, mempertentangkan harapan dan kenyataan. Apa yang membuat orang stress berkepanjangan? Apa yang membuat orang terkena konflik diri terlalu lama? Salah satunya adalah kurang bisa me-manage gap antara harapan dan kenyataan. Orang yang bisa manage, bisaannya menjadikan kenyataan sebagai dorongan untuk mewujudkan harapnnya, mereka bisa menggunakan ketidakpuasan sebagai dorongan untuk menciptakan perubahan. Banyakkan orang yang akhirnya mendapatkan berkah dari kenyataan buruk yang dihadapinya?

Sebaliknya orang yang belum bisa me-manage. Kerapkali menjadikan kenyataan ini sebagai killer harapannya, mereka menjadikan kenyataan sebagai penyubur apatisme dan pesimisme, meski sama sama menghadapi kenyataan yang sama, namun karena sikap mentalnya yang berbeda, ya akan berbeda hasilnya. Tidak sedikit orang yang selalu menuding kenyataan dan menjadikan kenyataan itu sebagai dalil pembenar untuk hopeless.

*) Dikutip dari “Mengapa Perlu Optimis, AN, Ubaedy, www.e-psykologi.com 2007